“bjb

Dampak El Nino, Peneliti BRIN Sebut Awal Musim Hujan di Jawa Alami Penundaan

Ilustrasi kekeringan. Foto: Istimewa.
Ilustrasi kekeringan. Foto: Istimewa.

HALOSMI.COM – Indonesia saat ini sedang mengalami fenomena iklim El Nino dan IOD positif. Hal itu menyebabkan musim kemarau kali ini lebih ekstrem, dengan tingkat suhu lebih panas dan kering.

Peneliti Klimatologi Pusat Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, mengatakan hingga saat ini belum ada tanda-tanda penurunan intensitas El Nino dan IOD positif di Indonesia.

“Belum ada tanda-tanda melemah. Pantauan hari ini, Indeks El Nino malah menguat kembali jadi plus 1,42 dan IOD positif menguat jadi plus 1,85,” kata Erma, dikutip dari CNBC Indonesia, Jumat 13 Oktober 2023.

Erma menjelaskan, dengan kondisi itu menyebabkan awal musim hujan di pulau Jawa mengalami penundaan.

“Berdasarkan kajian, jika terjadi El Nino dan IOD positif maka musim hujan mengalami penundaan antara 2 hingga 3 dasarian (periode 10 hari), sebab monsun Asia mengalami pelemahan. Ini khusus untuk wilayah Jawa ya,” jelasnya.

Menurut Erma, kondisi serupa terjadi saat musim kemarau di tahun 1997. Di mana, saat itu juga terjadi El Nino dan IOD Positif.

“Yang secara timing memiliki kemiripan dengan El Nino dan IOD pada musim kemarau tahun 2023 ini,” ujarnya.

Karena itu, lanjut dia, masyarakat diharapkan memperhatikan perkembangan cuaca agar bisa mengatur strategi yang tepat. Meski kondisi itu tak merata di seluruh Indonesia.

“Namun tidak seragam dan penundaan awal musim hujan terutama terjadi di kawasan utara atau Pantai Utara Jawa yang merupakan sentra padi atau lumbung pangan nasional,” kata Erma.

“Kalau normal November dasarian 3 sudah musim hujan. Tapi kan mundur 2-3 dasarian. Artinya awal musim hujan baru Desember,” tambah Erma.

Terkait hujan yang sempat terjadi beberapa waktu terakhir di wilayah Jawa, menurut Erma, hal itu dipengaruhi efek gangguan cuaca. Bukan menunjukkan pelemahan El Nino maupun IOD positif.

“Hujan yang terjadi beberapa hari lalu karena efek gangguan cuaca pada skala sinoptik karena ada pembentukan siklon tropis Bolaven,” pungkasnya. (*)

Follow dan baca artikel terbaru dan menarik lainnya dari halosmi.com di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *