Selangkah Lagi Juara, Persib Menyongsong Enigma Tak Ada Keajaiban di Pulau Madura

Penyerang Persib Bandung Ciro Alves berduel dengan bek Madura United, Koko Ari saat laga leg pertama babak final championship series Liga 1 2023/2024 di Stadion Si Jalak Harupat, Minggu 26 Mei 2024 malam. FOTO: Darwin Sandy/HALOSMI.
Penyerang Persib Bandung Ciro Alves berduel dengan bek Madura United, Koko Ari saat laga leg pertama babak final championship series Liga 1 2023/2024 di Stadion Si Jalak Harupat, Minggu 26 Mei 2024 malam. FOTO: Darwin Sandy/HALOSMI.

HALOSMI.COM – Persib Bandung selangkah lagi mencatat sejarah istimewa menjadi tim kedua Indonesia yang meraih tiga gelar juara liga selama era modern.

Berdasarkan infor masih yang dihimpun, sejak era Liga Indonesia bergulir pada musim 1994/1995, setelah Perserikatan dan Galatama dilebur, Persipura Jayapura menjadi tim tersukses dengan empat kali kampiun.

Jika Jumat, 31 Mei 2024 nanti Maung Bandung hanya kalah dengan selisih skor tak lebih dari dua gol atau imbang, apalagi menang dari Madura United, maka trofi ketiga Liga Indonesia diraih.

Situasi ini tercipta setelah Dedi Kusnandar dan kawan-kawan menang 3-0 atas Madura United pada leg pertama championship series di Stadion Si Jalak Harupat, Minggu kemarin, 26 Mei 2024.

Pangeran Biru, julukan lain Persib, pertama kali juara Liga Indonesia pada musim 1994/1995 dan yang kedua pada musim 2014. Jika digabung trofi era Perserikatan, maka ini gelar kesembilan.

Perjalanan Persib pada musim ini sejatinya tidak mudah. Pada awal musim Persib sempat berada di jurang degradasi bersama Luis Milla. Mereka juga sempat diboikot kelompok suporternya.

Namun, kedatangan Bojan Hodak jadi kunci. Pelatih asal Kroasia ini mengubah Persib yang pecundang menjadi tim petarung, bahkan tak mudah menyerah dan enggan kalah.

Internal tim yang kurang harmonis selama era Milla pun dibenahi. Mentalitas pemain yang tercerai berai itu perlahan tapi pasti dibangun dengan pendekatan persuasif dan provokatif.

Pemain-pemain yang sempat kehilangan kepercayaan diri, seperti Nick Kuipers bisa bangkit. Dengan skuad racikan Milla, Bojan melanjutkan asa masuk posisi empat besar fase reguler.

Target itu dicapai dengan permainan stabil. Dari segi permainan tak istimewa karena cenderung pragmatis, tetapi bisa menghadirkan gol-gol indah nan menawan.

Tiga gol Persib ke gawang Madura United buktinya. Semua gol dalam laga ini tercipta dengan proses hafalan yang tetap memiliki nilai seni secara visual.

Saat Hugo Gomes cedera, warna permainan Madura United luntur. Ketiadaan pemain yang biasa disapa Jaja ini membuat Laskar Sapeh Kerrab kehilangan dominasi.

Inilah titik lemah yang dieksplorasi Persib. Sadar lawan kehilangan daya, Bojan mengubah gaya pragmatis menjadi setelan serang. Masuknya Ezra Walian jadi titik ubahnya.

Namun, bukan Ezra yang mengubah wajah Persib yang sendu jadi beringas. Ciro Alves lah sosok protagonisnya. Gol Ciro mengubah perasaan bermain bola anak-anak Bandung.

Ciro yang grusa-grusu, kalah duel satu lawan satu pada babak pertama, namun jadi monster di babak kedua. Pergerakannya membuat Fachruddin Aryanto dan Cleberson Martins pusing.

Pemain yang mulai agak diremehkan, karena performa jelek di babak pertama, bangkit dari situasi sulit. Aksinya ini memercik api semangat bagi pemain Persib lainnya.

Rachmat Irianto sebagai pengangkut air juga prima dan matang. Pemain kelahiran Surabaya ini klinis saat duel satu lawan satu dan lugas dalam mengambil keputusan.

Beckham Putra yang tampil di pengujung babak kedua juga melejit. Assist untuk David da Silva jadi bukti potensi pemain muda 22 tahun ini terus terasah di bawah asuhan Bojan.

Begitulah tim pemenang selalu digambarkan. Sebaliknya tim yang kalah kerap digambarkan dengan kelemahan dan kekurangan, meski memang begitu faktanya.

Francisco Rivera misalnya. Mesin assist Madura United ini tak bisa dibilang main jelek. Sepanjang 90 menit, pemuda asal Meksiko ini bermain tenang dan visioner.

Hanya saja Rivera bukan dukun. Ia tak bisa mengubah daun jadi burung. Tanpa Jaja, lini tengah Madura United melemah. Adapun pengganti Jaja belum sepadan visinya.

Dengan kenyataan ini, rasanya tak akan ada keajaiban di Pulau Madura, di Stadion Gelora Bangkalan, di kandang Madura United pada leg kedua final Liga 1 2023/2024 nanti. (*)

Follow dan baca artikel terbaru dan menarik lainnya dari halosmi.com di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *